Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan

Posted on

Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan

Islam sudah lalu lewat mengatak penyelenggaraan cara maupun etika bertamu dan menerima pelawat. Budi pekerti ini berfungsi sebagai penyambung tali silaturahmi sesama anggota masyarakat. N domestik hal ini Rasulullah Saw. berfirman,

Dua makhluk yang enggak akan dilihat Allah Swt. plong musim akhir zaman merupakan individu nan memutuskan tali pernah dan tetangga yang buruk.”

(HR. Dailami)

Bertamu merupakan sunah Rasul, agar dapat mendapatkan hadiah dan berkah. Langkah purwa nan harus dilakukan sebelum bertamu yaitu meluruskan niat, kemudian mempersunting abolisi dan menyabdakan salam.

Begitu juga firman Allah dalam QS. An-Panah ayat 27:

Aduhai individu sosok yang beriman! Janganlah sira memasuki rumah nan tak rumahmu sebelum meminta amnesti dan menjatah salam kepada penghuninya. Nan demikian itu bertambah baik bagimu, semoga engkau (buruk lambung) pulang ingatan.

Berdasarkan isyarat Al-Qur’an di atas, maka nan mula-mula dilakukan adalah mempersunting ampunan, kemudian mengucapkan salam. Sedangkan mayoritas ahli fiqih berpendapat  sebaliknya.

Mereka berpendapat beralaskan beberapa perkataan nabi Rasulullah, yang sekali kembali dengan redaksi nan berbeda-tikai, sahaja semuanya menyatakan agar mengucapkan salam kian lagi tinggal sebelum mereka meminta pembebasan kepada tuan rumah.

Menunangi izinnya seorang boleh menggunakan pembukaan-kata, boleh pun dengan pertanda begitu juga birama pintu ataupun menekan tombol bel tamu, maupun prinsip-kaidah lain yang rata-rata dilakukan oleh umum sekitar.

Di samping mempersunting abolisi dan menitahkan salah, peristiwa bukan nan harus diperhatikan makanya seorang manusia yang bertamu adalah ibarat berikut:

1. Jangan Di waktu Istirahat

Bertamu lain pada rambang masa. Bertamu hendaklah bilamana nan tepat, ketika dirasa tua renta flat tidak akan terganggu. Contohnya, jangan bertamu lega detik sahibulbait istirahat atau plong jam tidurnya.

Baca Juga:  Relief Candi Prambanan Mengambil Penggalan Kisah Yang Terdapat Dalam Cerita

2. Jangan Lama-Lama

Jikalau dikabulkan bertamu jangan sesak lama sehingga merepotkan tuan apartemen. Bicara dengan bahasa yang ter-hormat dan santun serta menyenangkan pemilik rumah. Dengan perkenalan tadinya tak, sesudah urusan selesai, segeralah permisi dan pulang.

3. Bukan Ikut ke Rumah Wanita yang Sorangan

Janganlah masuk ke rumah wanita nan sorangan atau ditinggal suaminya pergi keluar. Keadaan ini bakal meninggalkan hal-hal yang tak diinginkan tersurat fitnah-hujat jiran-tetangganya.

4. Hormati Jamuannya

Kalau disuguhi makanan dan minuman, hormati jamuan itu. Rasulullah Saw. memunculkan sosok nan bertarak sunah sebaiknya dibatalkan untuk memuliakan jamuan dari sahibulbait.

5. Jangan Mengganggu Sahibulbait

Jangan untuk kegiatan nan menyebabkan tuan rumah terganggu. Contohnya, memeriksa kolom pribadi, perabotan kondominium, dagangan-dagangan berarti, memasuki rubrik abnormal maaf, maupun memperalat kemudahan-fasilitas di dalamnya minus maaf. Sebab, diizinkan timbrung bukan berjasa diizinkan atas segala-galanya, tertulis mengakses akomodasi nan cak semau di dalam rumahnya.

6. Mohon diri

Hendaklah pamit pada tahun cak hendak pulang karena meninggalkan rumah tanpa minta diri di samping tidak terpuji, kembali mengandung fitnah dan manah merusak.

Sedangkan kesusilaan tuan flat nan hendak mengakui petandang adalah sebagai berikut:

7. Menyambut Pelawat dengan Baik

Hendaklah tuan kondominium menjawat tamu dengan mimik wajah yang baik, tersenyum, penuh kebahagiaan, dan keramahan. Jangan terlebih sebaliknya, menyambutnya dengan kedukaan, satiris, kemuakan, dan sejenisnya.

8. Lain Pilih

Janganlah diskriminatif pelawat, kecuali puas anak bini atau kerabat akrab. Maksudnya, muliakanlah pelawat dengan setara, baik dok kaya maupun miskin. Berbeda kalau yang menclok keluarga maupun kerabat, maka kita boleh menyambutnya dengan istimewa.

9. Lain Memaksa kerumahtanggaan Suguh

Maksudnya adalah berikanlah jamuan sesuai kemampuan kita. Jangan berlebihan, apalagi menguati diri untuk memberikan jamuan di asing takat kemampuan kita.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Bopeng Bekas Jerawat Dengan Jeruk Nipis

10. Menetapi Keperluan Petandang

Berusahalah sekuat tenaga memenuhi keperluan petandang nan hadir. Dan tunjanglah keperluan hajatnya, baik yang berwatak kebutuhan atau keperluan singularis, seperti buang air kecil, Gapura, keluarga salat, dan bukan-tak.

11. Jangan Memurukkan Peziarah

Ketika petandang yang datang itu bukan kita kehendaki, jangan sekali-barangkali menunjukkan sikap yang mewujudkan tamu meresan. Tetaplah jamu sira dan perlakukan sebagaimana peziarah pada umumnya.

12. Antarkan Sampai Pintu

Sekiranya tamu telah berpamitan pulang, antarkanlah atau iringilah tamu tersebut sampai pintu flat (pagar). Berikan senyuman perpisahan dan jawablah salam pamitnya dengan ramah dan litak subtil.

Itulah 12 etika alias kesusilaan bertamu dan mengakui peziarah dalam Islam. Semoga dagangan segala yang kami sampaikan signifikan. Wallahu A’liwa

Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan

Sumber: https://asriportal.com/dalam-etika-menjamu-tamu-hendaklah-dilakukan-dengan/