Jelaskan Bukti Bahwa Kemerdekaan Indonesia Bukanlah Hadiah Dari Jepang

Posted on

Jelaskan Bukti Bahwa Kemerdekaan Indonesia Bukanlah Hadiah Dari Jepang

Kemerdekaan Indonesia Bukan Hadiah dari Jepang

Belanda menuding kemerdekaan Indonesia adalah suatu hadiah dari Jepang. Belanda menganggap bahwa Jepang sebagai pihak yang kalah perang tidak bisa menyerahkan kekuasaan politik kepada Soekarno-Hatta.

Belanda juga mengklaim sebagai pihak yang menang perang, Belanda berhak mengambil kembali wilayah bekas Hindia Belanda sebagai wilayah jajahannya.

Beberapa peristiwa politik jelang kemerdekaan menjadi indikasi tudingan Belanda tersebut. Pada tanggal 7 September 1944, PM Jepang, Kuniaki Kuiso menyatakan bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia pada suatu waktu nanti.

Pihak Jepang juga tidak menghalangi bahkan membuka secara resmi sidang BPUPKI yang kemudian menghasilkan banyak keputusan penting bagi kemerdekaan Indonesia. Sekitar tanggal 9 Agustus 1945, Soekarno-Hatta diundang oleh Jendral Terauchi untuk bertemu di kota Dalat, Vietnam.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Laksamana Maeda juga menyediakan rumahnya bagi  Soekarno-Hatta untuk menyusun dan mengetik naskah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16-17 Agustus 1945.

Pada bulan September 1945, pihak sekutu telah masuk ke wilayah Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan politik dari Jepang.

Menghadapi ancaman baliknya penjajah Belanda yang membonceng pihak sekutu, Soekarno-Hatta berupa meyakinkan pihak Sekutu bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari Jepang.

Tapi sosok Soekarno-Hatta terlanjur dipandang sebagai kolaborator Jepang sehingga Soekarno-Hatta harus mencari jalan lain untuk meyakinkan pihak Sekutu.

Soekarno-Hatta kemudian mengajak dua tokoh penting gerakan anti Jepang yaitu Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin masuk ke dalam kabinet pemerintahan Indonesia yang pertama. Sjahir adalah seorang tokoh sosialis Indonesia.

Sjahrir berteman baik dengan Hatta, tetapi Sjahrir mempunyai sikap yang berbeda dengan Hatta khususnya soal hubungan kerjasama dengan Jepang untuk mencapai kemerdekaan.

Hatta lebih berkompromi dengan pihak Jepang dengan harapan agar Jepang tidak menghalangi proses kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, Sjahrir sejak awal telah memutuskan untuk tidak berkerjasama dengan pihak Jepang, sehingga Sjahrir.

Amir Sjarifuddin, adalah seorang sosialis seperti Sjahrir. Keduanya pernah bekerja sama dalam Partai Sosialis Indonesia. Amir mempunyai reputasi sebagai tokoh yang paling militan melawan Jepang. Amir ditahan dan diancam hukuman mati oleh pihak militer Jepang.

Berkat intervensi dari Soekarno, Amir terbebas dari eksekusi mati. Soekarno memandang sosok Amir sangat penting bagi citra pemerintahan Indonesia di mata Sekutu. Tudingan kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang ditepis oleh Soekarno-Hatta dengan mengangkat Amir sebagai Menteri Informasi dalam kabinet pemerintahan Indonesia yang pertama.

Soekarno-Hatta juga melakukan kompromi dengan pihak sekutu dengan membuat kabinet parlementer meski UUD 1945 telah menetapkan sistem pemerintahan Indonesia merdeka adalah sistem presidensial.

Kabinet pertama memang kabinet presidensial, tetapi usianya tidak panjang, hanya berlangsung tiga bulan (September-November 1945). Setelah adanya Maklumat Wakil Presiden No. 10 tanggal 3 November 1945, Hatta meluncurkan sistem multi partai. Kemudian pada tanggal 14 November 1945, terbentuk kabinet parlementer dengan Sjahrir menduduki jabatan PM.

Upaya Soekarno-Hatta melibatkan Sjahrir dan Amir dalam pemerintahan Indonesia yang baru merdeka cukup berhasil meyakinkan pihak sekutu sehingga Belanda tidak begitu leluasa dalam upayanya mengambil kembali Indonesia sebagai wilayah jajahannya.

Sumber
:

  • Anderson, Benedict R. O’G,
    Java in a Time of Revolution : Occupation and Resistance, 1944-1946
    ( Ithaca, New York : Cornell University Press, 1972).
  • Kahin, George McTurnan,
    Nationalism and Revolution in Indonesia
    (Ithaca, New York : Cornell University Press, 1952).
  • Leclerc, Jacques,
    Mencari Kiri : Kaim Revolusioner Indonesia dan Revolusi Merdeka
    (Tangerang Selatan : Marjin Kiri, 2011).

Oleh Hendrik Andreas B

Jelaskan Bukti Bahwa Kemerdekaan Indonesia Bukanlah Hadiah Dari Jepang

Sumber: https://konstelasi.id/kemerdekaan-indonesia-bukan-hadiah-dari-jepang/

Baca Juga:  Model Baju Atasan Anak Perempuan Terbaru